Misteri Gang Bayangan (2)
Aku benci dengan rasa takut yang tiba-tiba menyelisip di
dadaku, padahal aku adalah anak paling logis di sekolah. Gang itu sepi, gelap,
tak ada seorang pun terlihat melintas meskipun malam belum terlalu larut.
Gulungan rafia di tanganku kian sedikit, pertanda langkahku kian jauh dari
mulut gang. Sepanjang lorong yang telah kulewati, tak kulihat tanda-tanda
adanya adikku.
Separuh gang.
Selereet... tes...
Aaah...rafiaku habis dan tanpa kusadari terlepas dari
genggamanku. Aku hendak berbalik ketika mataku menangkap sebuah benda bulat di
atas tumpukan peti-peti kayu. Bola bekel milik adikku. Kuhampiri bola itu
dengan tergesa, tanganku menggapai bola berwarna-warni itu kemudian dengan
cepat membuka tumpukan-tumpukan peti-peti itu sambil meneriakkan nama adikku.
Ran..!
Ran..!
Peti-peti yang bertumpuk itu seolah-olah mengejekku ketika
sampai tumpukan terakhir Ran tak juga kutemukan. Napasku tersengal antara kalut
dan takut. Hatiku kian ciut mengingat cerita-cerita seram yang ditanamkan di
otakku sejak bertahun-tahun lalu. Terlebih ketika tiba-tiba adikku tertelan
dalam gang, rasa takut itu kian menumpuk. Gang ini memang benar-benar gelap, bahkan
cahaya lampu pun enggan mendekat. Aku
membuka telepon genggamku dan mengaktifkan mode senter, seberkas cahaya
keperakan berhasil mengusir gelap meskipun sebenarnya gelap hanya mundur
beberapa langkah. Kusapukan cahaya senter ke arah tumpukan peti kayu yang telah
berserak. Ada sesuatu yang jelas bukan
berasal dari gang ini. Sepatu
olahraga warna merah bata dengan dua garis putih membelah bagian tengahnya. Ini sepatu Ran.
olahraga warna merah bata dengan dua garis putih membelah bagian tengahnya. Ini sepatu Ran.
Separuh gang tanpa rafia, dan beberapa jejak. Hatiku tak
lagi takut, di dalam sana kini hanya berisi kemarahan. Seseorang telah
mempermainkanku. Tekadku sudah bulat, aku harus menemukan adikku.
Baiklah, Sebaiknya kuanalisa petunjuk-petunjuk yang ada sebelum
menentukan langkah selanjutnya. Bola yang sengaja diletakkan di atas tumpukan
peti-peti kayu. Aku yakin bola itu sengaja diletakkan karena bola bekel tak
mungkin memantul kian tinggi jika telah menempuh jarak sejauh itu, bola itu
past akan melambat lajunya dan kemungkinan hanya akan teronggok di jalanan
tanpa dapat tertata rapi di atas peti. Jika Ran yang menaruhnya lebih tidak
mungkin, karena dia bukan anak yang mudah melepaskan mainannya. Ran pasti akan
menyimpan bola itu di saku bajunya atau menggenggamnya saja. Bola itu pasti
sengaja diletakkan agar aku tetap punya harapan akan segera menemukan adikku.
Orang ini paham kalau aku sangat menyayangi adikku, jadi akan aku akan terus
mencari adikku.
Sepatu Ran bukan tertinggal namun sengaja
ditinggal, karena sepatu Ran adalah sepatu bertali sedangkan Ran bukan tipe
anak yang ceroboh dan membiarkan tali sepatunya terlepas begitu saja. Jadi,
kesimpulan sementara, ini bukan
perbuatan hantu, setan ataupun sejenisnya. Ini adalah perbuatan seseorang yang
sengaja hendak mempermainkanku.
Sekarang aku harus mencari
petunjuk-petunjuk baru yang pasti sudah disiapkan orang itu. Dan yang
terpenting aku harus bisa segera menyimpulkan apa yang diinginkannya serta
siapa sebenarnya orang itu. Aku harus bergegas, karena aku tak tahu berapa lama
waktu yang diberikan padaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar