Jumat, 11 Maret 2016

Misteri Gang Bayangan (2)




                                            Misteri Gang Bayangan (2)

            Aku benci dengan rasa takut yang tiba-tiba menyelisip di dadaku, padahal aku adalah anak paling logis di sekolah. Gang itu sepi, gelap, tak ada seorang pun terlihat melintas meskipun malam belum terlalu larut. Gulungan rafia di tanganku kian sedikit, pertanda langkahku kian jauh dari mulut gang. Sepanjang lorong yang telah kulewati, tak kulihat tanda-tanda adanya adikku.
            Separuh gang.
           Selereet... tes...
            Aaah...rafiaku habis dan tanpa kusadari terlepas dari genggamanku. Aku hendak berbalik ketika mataku menangkap sebuah benda bulat di atas tumpukan peti-peti kayu. Bola bekel milik adikku. Kuhampiri bola itu dengan tergesa, tanganku menggapai bola berwarna-warni itu kemudian dengan cepat membuka tumpukan-tumpukan peti-peti itu sambil meneriakkan nama adikku.
             Ran..!
             Ran..!
             Peti-peti yang bertumpuk itu seolah-olah mengejekku ketika sampai tumpukan terakhir Ran tak juga kutemukan. Napasku tersengal antara kalut dan takut. Hatiku kian ciut mengingat cerita-cerita seram yang ditanamkan di otakku sejak bertahun-tahun lalu. Terlebih ketika tiba-tiba adikku tertelan dalam gang, rasa takut itu kian menumpuk. Gang ini memang benar-benar gelap, bahkan cahaya lampu pun enggan mendekat.  Aku  membuka telepon genggamku dan mengaktifkan mode senter, seberkas cahaya keperakan berhasil mengusir gelap meskipun sebenarnya gelap hanya mundur beberapa langkah. Kusapukan cahaya senter ke arah tumpukan peti kayu yang telah berserak.  Ada sesuatu yang jelas bukan berasal dari gang ini. Sepatu
olahraga warna merah bata dengan dua garis putih membelah bagian tengahnya. Ini sepatu Ran.
          Separuh gang tanpa rafia, dan beberapa jejak. Hatiku tak lagi takut, di dalam sana kini hanya berisi kemarahan. Seseorang telah mempermainkanku. Tekadku sudah bulat, aku harus menemukan adikku.
Baiklah, Sebaiknya kuanalisa petunjuk-petunjuk yang ada sebelum menentukan langkah selanjutnya. Bola yang sengaja diletakkan di atas tumpukan peti-peti kayu. Aku yakin bola itu sengaja diletakkan karena bola bekel tak mungkin memantul kian tinggi jika telah menempuh jarak sejauh itu, bola itu past akan melambat lajunya dan kemungkinan hanya akan teronggok di jalanan tanpa dapat tertata rapi di atas peti. Jika Ran yang menaruhnya lebih tidak mungkin, karena dia bukan anak yang mudah melepaskan mainannya. Ran pasti akan menyimpan bola itu di saku bajunya atau menggenggamnya saja. Bola itu pasti sengaja diletakkan agar aku tetap punya harapan akan segera menemukan adikku. Orang ini paham kalau aku sangat menyayangi adikku, jadi akan aku akan terus mencari adikku.
 Sepatu Ran bukan tertinggal namun sengaja ditinggal, karena sepatu Ran adalah sepatu bertali sedangkan Ran bukan tipe anak yang ceroboh dan membiarkan tali sepatunya terlepas begitu saja. Jadi, kesimpulan sementara,  ini bukan perbuatan hantu, setan ataupun sejenisnya. Ini adalah perbuatan seseorang yang sengaja hendak mempermainkanku.

Sekarang aku harus mencari petunjuk-petunjuk baru yang pasti sudah disiapkan orang itu. Dan yang terpenting aku harus bisa segera menyimpulkan apa yang diinginkannya serta siapa sebenarnya orang itu. Aku harus bergegas, karena aku tak tahu berapa lama waktu yang diberikan padaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar