Aku Perfeksionis
Salah satu kelemahanku adalah perfeksionis dan aku bersungguh-sungguh.
Jika aku kuliah maka aku akan sungguh-sungguh mendengarkan dosen saat beliau
mengajar. Aku akan sungguh upayakan agar aku bisa berangkat kuliah, jika aku
harus tidak berangkat, aku akan mencari alasan yang semasuk akal mungkin. Pun
aku tidak biasa berbohong, jadi aku tidak bisa menyontek. Artinya jika tidak
ingin mengulang, minimal aku harus dapat B, dan untuk dapatkan itu aku harus
belajar. Belajar itu wujud kesungguhanku dalam kuliah.
Jika aku ditunjuk untuk mengerjakan suatu tugas, aku akan
mengerjakannya sedemikian rupa sehingga tugas itu rampung dalam kondisi paling
optimal. Contoh nih. Suatu ketika Rtku akan ikut lomba TOGA se-RW. Aku dapat
tugas untuk membuat nama-nama tanaman obat itu. Walhasil yang kukerjakan bukan
hanya itu. Aku mencari nama-nama tanaman obat dari internet, aku unduh beserta gambarnya. Setelah tahu aku
nama-nama tanaman obat itu banyak sekali, aku berpikir bahwa aku harus bisa menggenapi
koleksi tanaman kami. Jadialah aku mendata semua tanaman yang dibawa ibu-ibu
se-RT, jika ada tanaman yang belum dibawa oleh ibu-ibu itu, aku sibuk
mencarinya di kebun-kebun di wilayah lingkungan kami. Bukan itu saja, aku
kemudian menyusun informasi tentang koleksi tanaman kami dalam bentuk buku. Tentu
tugas utamaku untuk membuatkan nama-nama tanaman juga kukerjakan. Hasilnya kami
juara dua lomba TOGA se-RW.
Yup! Bagus untuk Rtku namun tak bagus untuk keluargaku,
karena waktuku untuk mereka jadi banyak berkurang.
Itu baru satu macam pekerjaan. Jika aku mengharuskan diri
sempurna dalam setiap tugas, maka
seluruh energiku akan terserap habis dalam tugas-tugas itu. Maka dari itu aku
sedang berusaha untuk tidak terlalu sempurna. Kuliah terkadang bolos, arisan
PKK terkadang tidak hadir. Satu hal yang aku harus tetap sempurna adalah saat
bekerja. Karena pekerjaanku berkenaan dengan keselamatan pasien. Jika
kutinggalkan kesempurnaan itu, nyawa taruhannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar