Aku rindu
tertawa bercanda bersama kalian
sedang apakah gerangan?
sudah bernas dan bertunaskah
telah terbang dan menjadi bintang?
Aku rindu
menyatu berbaur dalam kicau
berbagi sapa dan kabar sarapan
hah
bahkan sekedar segelas latte pun kau bagi
sebait kata yanga tak pernah sampai
merindu cinta dan tawa gersang
Sejenak dalam rehat, diantara tumpukan buku dan jurnal. miss IWIP
Semarang, 13 Oktober 2016
Kamis, 13 Oktober 2016
Jumat, 11 Maret 2016
Misteri Gang Bayangan (2)
Misteri Gang Bayangan (2)
Aku benci dengan rasa takut yang tiba-tiba menyelisip di
dadaku, padahal aku adalah anak paling logis di sekolah. Gang itu sepi, gelap,
tak ada seorang pun terlihat melintas meskipun malam belum terlalu larut.
Gulungan rafia di tanganku kian sedikit, pertanda langkahku kian jauh dari
mulut gang. Sepanjang lorong yang telah kulewati, tak kulihat tanda-tanda
adanya adikku.
Separuh gang.
Selereet... tes...
Aaah...rafiaku habis dan tanpa kusadari terlepas dari
genggamanku. Aku hendak berbalik ketika mataku menangkap sebuah benda bulat di
atas tumpukan peti-peti kayu. Bola bekel milik adikku. Kuhampiri bola itu
dengan tergesa, tanganku menggapai bola berwarna-warni itu kemudian dengan
cepat membuka tumpukan-tumpukan peti-peti itu sambil meneriakkan nama adikku.
Ran..!
Ran..!
Peti-peti yang bertumpuk itu seolah-olah mengejekku ketika
sampai tumpukan terakhir Ran tak juga kutemukan. Napasku tersengal antara kalut
dan takut. Hatiku kian ciut mengingat cerita-cerita seram yang ditanamkan di
otakku sejak bertahun-tahun lalu. Terlebih ketika tiba-tiba adikku tertelan
dalam gang, rasa takut itu kian menumpuk. Gang ini memang benar-benar gelap, bahkan
cahaya lampu pun enggan mendekat. Aku
membuka telepon genggamku dan mengaktifkan mode senter, seberkas cahaya
keperakan berhasil mengusir gelap meskipun sebenarnya gelap hanya mundur
beberapa langkah. Kusapukan cahaya senter ke arah tumpukan peti kayu yang telah
berserak. Ada sesuatu yang jelas bukan
berasal dari gang ini. Sepatu
olahraga warna merah bata dengan dua garis putih membelah bagian tengahnya. Ini sepatu Ran.
olahraga warna merah bata dengan dua garis putih membelah bagian tengahnya. Ini sepatu Ran.
Separuh gang tanpa rafia, dan beberapa jejak. Hatiku tak
lagi takut, di dalam sana kini hanya berisi kemarahan. Seseorang telah
mempermainkanku. Tekadku sudah bulat, aku harus menemukan adikku.
Baiklah, Sebaiknya kuanalisa petunjuk-petunjuk yang ada sebelum
menentukan langkah selanjutnya. Bola yang sengaja diletakkan di atas tumpukan
peti-peti kayu. Aku yakin bola itu sengaja diletakkan karena bola bekel tak
mungkin memantul kian tinggi jika telah menempuh jarak sejauh itu, bola itu
past akan melambat lajunya dan kemungkinan hanya akan teronggok di jalanan
tanpa dapat tertata rapi di atas peti. Jika Ran yang menaruhnya lebih tidak
mungkin, karena dia bukan anak yang mudah melepaskan mainannya. Ran pasti akan
menyimpan bola itu di saku bajunya atau menggenggamnya saja. Bola itu pasti
sengaja diletakkan agar aku tetap punya harapan akan segera menemukan adikku.
Orang ini paham kalau aku sangat menyayangi adikku, jadi akan aku akan terus
mencari adikku.
Sepatu Ran bukan tertinggal namun sengaja
ditinggal, karena sepatu Ran adalah sepatu bertali sedangkan Ran bukan tipe
anak yang ceroboh dan membiarkan tali sepatunya terlepas begitu saja. Jadi,
kesimpulan sementara, ini bukan
perbuatan hantu, setan ataupun sejenisnya. Ini adalah perbuatan seseorang yang
sengaja hendak mempermainkanku.
Sekarang aku harus mencari
petunjuk-petunjuk baru yang pasti sudah disiapkan orang itu. Dan yang
terpenting aku harus bisa segera menyimpulkan apa yang diinginkannya serta
siapa sebenarnya orang itu. Aku harus bergegas, karena aku tak tahu berapa lama
waktu yang diberikan padaku.
Kamis, 03 Maret 2016
Kelak Berjumpa
Kelak berjumpa
Saat retak menggoda
Berbagi pecah, kasar, berlubang
Bertaut pedih, sedih bersama
Bersenandung aduh di dada
Lelap malam bertukar gelisah
Lembut sapa menabur resah
Akankah bersua dalam salah?
Entah
Elok purnama menyayat senyap
Mengundang detak beradu kalap
Cahaya tak lagi
menyinari gelap
Wahai jarak!
Apa pula telah kau perbuat
mengejek rindu kian berat
menekan cinta kian kuat
Lah cinta
Apa itu cinta?
Rembulan merah jambu di pucuk cemara?
Segunung cokelat tanpa nama?
Sebait puisi penanda derita?
Jika iya
Sambut layaknya raja
Disanjung disapa jangan dipuja
Dielu dipeluk sewajarnya
Hingga kata “sah” bergema
Semarang, 4 Maret 2016
Aku Perfeksionis
Aku Perfeksionis
Salah satu kelemahanku adalah perfeksionis dan aku bersungguh-sungguh.
Jika aku kuliah maka aku akan sungguh-sungguh mendengarkan dosen saat beliau
mengajar. Aku akan sungguh upayakan agar aku bisa berangkat kuliah, jika aku
harus tidak berangkat, aku akan mencari alasan yang semasuk akal mungkin. Pun
aku tidak biasa berbohong, jadi aku tidak bisa menyontek. Artinya jika tidak
ingin mengulang, minimal aku harus dapat B, dan untuk dapatkan itu aku harus
belajar. Belajar itu wujud kesungguhanku dalam kuliah.
Jika aku ditunjuk untuk mengerjakan suatu tugas, aku akan
mengerjakannya sedemikian rupa sehingga tugas itu rampung dalam kondisi paling
optimal. Contoh nih. Suatu ketika Rtku akan ikut lomba TOGA se-RW. Aku dapat
tugas untuk membuat nama-nama tanaman obat itu. Walhasil yang kukerjakan bukan
hanya itu. Aku mencari nama-nama tanaman obat dari internet, aku unduh beserta gambarnya. Setelah tahu aku
nama-nama tanaman obat itu banyak sekali, aku berpikir bahwa aku harus bisa menggenapi
koleksi tanaman kami. Jadialah aku mendata semua tanaman yang dibawa ibu-ibu
se-RT, jika ada tanaman yang belum dibawa oleh ibu-ibu itu, aku sibuk
mencarinya di kebun-kebun di wilayah lingkungan kami. Bukan itu saja, aku
kemudian menyusun informasi tentang koleksi tanaman kami dalam bentuk buku. Tentu
tugas utamaku untuk membuatkan nama-nama tanaman juga kukerjakan. Hasilnya kami
juara dua lomba TOGA se-RW.
Yup! Bagus untuk Rtku namun tak bagus untuk keluargaku,
karena waktuku untuk mereka jadi banyak berkurang.
Itu baru satu macam pekerjaan. Jika aku mengharuskan diri
sempurna dalam setiap tugas, maka
seluruh energiku akan terserap habis dalam tugas-tugas itu. Maka dari itu aku
sedang berusaha untuk tidak terlalu sempurna. Kuliah terkadang bolos, arisan
PKK terkadang tidak hadir. Satu hal yang aku harus tetap sempurna adalah saat
bekerja. Karena pekerjaanku berkenaan dengan keselamatan pasien. Jika
kutinggalkan kesempurnaan itu, nyawa taruhannya.
Langganan:
Postingan (Atom)