Kamis, 13 Oktober 2016

Aku rindu
tertawa bercanda bersama kalian
sedang apakah gerangan?
sudah bernas dan bertunaskah
telah terbang dan menjadi bintang?

Aku rindu
menyatu berbaur dalam kicau
berbagi sapa dan kabar sarapan

hah
bahkan sekedar segelas latte pun kau bagi

sebait kata yanga tak pernah sampai
merindu cinta dan tawa gersang






Sejenak dalam rehat, diantara tumpukan buku dan jurnal. miss IWIP

Semarang, 13 Oktober 2016

Jumat, 11 Maret 2016

Misteri Gang Bayangan (2)




                                            Misteri Gang Bayangan (2)

            Aku benci dengan rasa takut yang tiba-tiba menyelisip di dadaku, padahal aku adalah anak paling logis di sekolah. Gang itu sepi, gelap, tak ada seorang pun terlihat melintas meskipun malam belum terlalu larut. Gulungan rafia di tanganku kian sedikit, pertanda langkahku kian jauh dari mulut gang. Sepanjang lorong yang telah kulewati, tak kulihat tanda-tanda adanya adikku.
            Separuh gang.
           Selereet... tes...
            Aaah...rafiaku habis dan tanpa kusadari terlepas dari genggamanku. Aku hendak berbalik ketika mataku menangkap sebuah benda bulat di atas tumpukan peti-peti kayu. Bola bekel milik adikku. Kuhampiri bola itu dengan tergesa, tanganku menggapai bola berwarna-warni itu kemudian dengan cepat membuka tumpukan-tumpukan peti-peti itu sambil meneriakkan nama adikku.
             Ran..!
             Ran..!
             Peti-peti yang bertumpuk itu seolah-olah mengejekku ketika sampai tumpukan terakhir Ran tak juga kutemukan. Napasku tersengal antara kalut dan takut. Hatiku kian ciut mengingat cerita-cerita seram yang ditanamkan di otakku sejak bertahun-tahun lalu. Terlebih ketika tiba-tiba adikku tertelan dalam gang, rasa takut itu kian menumpuk. Gang ini memang benar-benar gelap, bahkan cahaya lampu pun enggan mendekat.  Aku  membuka telepon genggamku dan mengaktifkan mode senter, seberkas cahaya keperakan berhasil mengusir gelap meskipun sebenarnya gelap hanya mundur beberapa langkah. Kusapukan cahaya senter ke arah tumpukan peti kayu yang telah berserak.  Ada sesuatu yang jelas bukan berasal dari gang ini. Sepatu
olahraga warna merah bata dengan dua garis putih membelah bagian tengahnya. Ini sepatu Ran.
          Separuh gang tanpa rafia, dan beberapa jejak. Hatiku tak lagi takut, di dalam sana kini hanya berisi kemarahan. Seseorang telah mempermainkanku. Tekadku sudah bulat, aku harus menemukan adikku.
Baiklah, Sebaiknya kuanalisa petunjuk-petunjuk yang ada sebelum menentukan langkah selanjutnya. Bola yang sengaja diletakkan di atas tumpukan peti-peti kayu. Aku yakin bola itu sengaja diletakkan karena bola bekel tak mungkin memantul kian tinggi jika telah menempuh jarak sejauh itu, bola itu past akan melambat lajunya dan kemungkinan hanya akan teronggok di jalanan tanpa dapat tertata rapi di atas peti. Jika Ran yang menaruhnya lebih tidak mungkin, karena dia bukan anak yang mudah melepaskan mainannya. Ran pasti akan menyimpan bola itu di saku bajunya atau menggenggamnya saja. Bola itu pasti sengaja diletakkan agar aku tetap punya harapan akan segera menemukan adikku. Orang ini paham kalau aku sangat menyayangi adikku, jadi akan aku akan terus mencari adikku.
 Sepatu Ran bukan tertinggal namun sengaja ditinggal, karena sepatu Ran adalah sepatu bertali sedangkan Ran bukan tipe anak yang ceroboh dan membiarkan tali sepatunya terlepas begitu saja. Jadi, kesimpulan sementara,  ini bukan perbuatan hantu, setan ataupun sejenisnya. Ini adalah perbuatan seseorang yang sengaja hendak mempermainkanku.

Sekarang aku harus mencari petunjuk-petunjuk baru yang pasti sudah disiapkan orang itu. Dan yang terpenting aku harus bisa segera menyimpulkan apa yang diinginkannya serta siapa sebenarnya orang itu. Aku harus bergegas, karena aku tak tahu berapa lama waktu yang diberikan padaku.

Kamis, 03 Maret 2016

Kelak Berjumpa



Kelak berjumpa

Saat retak menggoda
Berbagi pecah, kasar, berlubang
Bertaut pedih, sedih bersama
Bersenandung aduh di dada

Lelap malam bertukar gelisah
Lembut sapa menabur resah
Akankah bersua dalam salah?
Entah

Elok purnama menyayat senyap
Mengundang detak beradu kalap
Cahaya tak  lagi menyinari gelap

Wahai jarak!
Apa pula telah kau perbuat
mengejek rindu kian berat
menekan cinta kian kuat

Lah cinta

Apa itu cinta?
Rembulan merah jambu di pucuk cemara?
Segunung cokelat tanpa nama?
Sebait puisi penanda derita?

Jika iya
Sambut layaknya raja
Disanjung disapa jangan dipuja
Dielu dipeluk sewajarnya
Hingga kata “sah” bergema

Semarang, 4 Maret 2016

Aku Perfeksionis



Aku Perfeksionis
Salah satu kelemahanku adalah perfeksionis dan aku bersungguh-sungguh. Jika aku kuliah maka aku akan sungguh-sungguh mendengarkan dosen saat beliau mengajar. Aku akan sungguh upayakan agar aku bisa berangkat kuliah, jika aku harus tidak berangkat, aku akan mencari alasan yang semasuk akal mungkin. Pun aku tidak biasa berbohong, jadi aku tidak bisa menyontek. Artinya jika tidak ingin mengulang, minimal aku harus dapat B, dan untuk dapatkan itu aku harus belajar. Belajar itu wujud kesungguhanku dalam kuliah.
Jika aku ditunjuk untuk mengerjakan suatu tugas, aku akan mengerjakannya sedemikian rupa sehingga tugas itu rampung dalam kondisi paling optimal. Contoh nih. Suatu ketika Rtku akan ikut lomba TOGA se-RW. Aku dapat tugas untuk membuat nama-nama tanaman obat itu. Walhasil yang kukerjakan bukan hanya itu. Aku mencari nama-nama tanaman obat dari internet, aku  unduh beserta gambarnya. Setelah tahu aku nama-nama tanaman obat itu banyak sekali, aku berpikir bahwa aku harus bisa menggenapi koleksi tanaman kami. Jadialah aku mendata semua tanaman yang dibawa ibu-ibu se-RT, jika ada tanaman yang belum dibawa oleh ibu-ibu itu, aku sibuk mencarinya di kebun-kebun di wilayah lingkungan kami. Bukan itu saja, aku kemudian menyusun informasi tentang koleksi tanaman kami dalam bentuk buku. Tentu tugas utamaku untuk membuatkan nama-nama tanaman juga kukerjakan. Hasilnya kami juara dua lomba TOGA se-RW.
Yup! Bagus untuk Rtku namun tak bagus untuk keluargaku, karena waktuku untuk mereka jadi banyak berkurang.
Itu baru satu macam pekerjaan. Jika aku mengharuskan diri sempurna dalam setiap tugas,  maka seluruh energiku akan terserap habis dalam tugas-tugas itu. Maka dari itu aku sedang berusaha untuk tidak terlalu sempurna. Kuliah terkadang bolos, arisan PKK terkadang tidak hadir. Satu hal yang aku harus tetap sempurna adalah saat bekerja. Karena pekerjaanku berkenaan dengan keselamatan pasien. Jika kutinggalkan kesempurnaan itu, nyawa taruhannya.